Di tengah tekanan modernisasi pertanian yang cenderung seragam, peran petani dalam menjaga keanekaragaman hayati menjadi semakin vital dan tak tergantikan. Keanekaragaman hayati, yang mencakup variasi genetik, spesies, dan ekosistem, adalah fondasi dari sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Tanpa keanekaragaman ini, ekosistem pertanian menjadi rentan terhadap hama, penyakit, dan perubahan iklim. Praktik pertanian konvensional yang mengandalkan monokultur sering kali mengorbankan varietas lokal dan spesies liar, padahal merekalah yang berperan penting dalam ekosistem pertanian.

Pada tanggal 20 November 2025, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Sukabumi mengadakan sebuah program edukasi bagi petani di Desa Cikidang. Acara yang dihadiri oleh 75 petani ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Bapak Budi Prasetyo, seorang penyuluh pertanian senior, dalam sambutannya menekankan bahwa petani adalah garda terdepan dalam upaya pelestarian. Ia mencontohkan bagaimana petani di sana yang mulai menanam tanaman polikultur, yaitu menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan secara bersamaan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menarik serangga penyerbuk dan predator alami yang membantu mengendalikan hama secara biologis. Data yang tercatat dalam laporan harian petugas lapangan, Ibu Siti Aminah, menunjukkan penurunan penggunaan pestisida hingga 40% di lahan yang menerapkan sistem polikultur.

Selain itu, peran petani dalam menjaga keanekaragaman hayati juga terlihat dari upaya mereka dalam melestarikan varietas benih lokal atau tradisional. Varietas ini sering kali lebih tahan terhadap kondisi iklim dan penyakit lokal dibandingkan dengan varietas hibrida. Di Desa Ciwidey, misalnya, kelompok tani “Petani Mandiri” yang diketuai oleh Bapak Ahmad telah berhasil melestarikan benih padi varietas lokal yang dikenal dengan nama ‘Padi Merah Ciwidey’. Pada 25 Januari 2025, mereka mengadakan festival benih lokal yang menarik perhatian banyak petani dari desa tetangga. Menurut wawancara dengan Bapak Ahmad, varietas ini memiliki ketahanan luar biasa terhadap hama wereng, yang sering kali menjadi masalah utama di wilayah tersebut.

Lebih dari sekadar teknik pertanian, peran petani dalam menjaga keanekaragaman hayati juga mencakup pengelolaan lanskap yang terintegrasi. Hal ini bisa berupa pemeliharaan area riparian (kawasan di sekitar sungai), penanaman pagar hidup di sekeliling kebun, atau pembuatan kolam ikan. Semua praktik ini menciptakan habitat tambahan bagi satwa liar dan mikroorganisme, yang pada gilirannya akan mendukung keseimbangan ekosistem pertanian. Sebuah studi dari Lembaga Konservasi Alam, yang dirilis pada 15 Desember 2024, mencatat bahwa lahan pertanian yang memiliki pagar hidup di sekitarnya menunjukkan populasi burung predator hama yang lebih tinggi, membantu petani mengurangi kerugian panen secara signifikan. Dengan demikian, petani bukan hanya produsen pangan, melainkan juga penjaga utama kekayaan alam yang menjadi tumpuan kehidupan kita.