Menjadi Petani Organik berarti lebih dari sekadar menanam tanpa bahan kimia; ini adalah tentang menjaga keseimbangan harmonis organisme hidup di dalam lahan. Fondasi pertanian organik terletak pada pemahaman bahwa tanah adalah ekosistem yang kompleks, di mana setiap cacing, bakteri, dan jamur berperan vital dalam menciptakan kesuburan alami. Edukasi tentang interaksi ini menjadi kunci sukses bagi petani yang berorientasi pada keberlanjutan.

Program edukasi yang berfokus pada keseimbangan organisme hidup di lahan sangat krusial bagi Petani Organik. Sebagai contoh, pada hari Minggu, 20 Juli 2025, pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, di Pusat Pelatihan Pertanian Berkelanjutan (P3B) “Alam Lestari” yang berlokasi di Desa Mekar Wangi, Kecamatan Hijau Damai, Kabupaten Tanah Subur, sebuah lokakarya intensif telah diselenggarakan. Acara ini dihadiri oleh 80 peserta, termasuk perwakilan kelompok tani organik dari berbagai desa, pegiat lingkungan hidup, serta mahasiswa pertanian yang tertarik pada praktik ramah lingkungan.

Materi yang disampaikan dalam lokakarya ini dimulai dengan pengenalan mendalam tentang keragaman hayati tanah. Peserta diajarkan untuk memahami berbagai jenis organisme yang mendiami lahan, mulai dari mikroorganisme seperti bakteri dan fungi, hingga makroorganisme seperti cacing tanah dan serangga. Instruktur menjelaskan peran krusial masing-masing organisme: bakteri dan fungi sebagai dekomposer bahan organik dan penambat nutrisi, cacing tanah yang memperbaiki struktur tanah dan aerasi, serta serangga bermanfaat yang membantu penyerbukan atau mengendalikan hama alami. Pemahaman akan ekosistem bawah tanah ini adalah langkah awal bagi setiap Petani Organik.

Selanjutnya, pelatihan membahas praktik-praktik pertanian yang mendukung dan meningkatkan populasi organisme tanah yang bermanfaat. Peserta diedukasi tentang dampak negatif penggunaan pupuk kimia sintetis dan pestisida berlebihan yang dapat merusak keseimbangan ekosistem tanah. Sebagai gantinya, ditekankan pentingnya penggunaan bahan organik, seperti kompos berkualitas tinggi dan pupuk kandang yang telah matang, sebagai sumber nutrisi utama bagi tanaman dan organisme tanah. Sesi ini juga meliputi teknik pembuatan kompos yang benar, cara aplikasi pupuk organik yang efektif, dan penggunaan pupuk hayati yang mengandung mikroba bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Aspek penting lainnya yang dibahas adalah pengelolaan hama dan penyakit secara alami, dengan memanfaatkan peran organisme hidup. Peserta belajar tentang konsep pengendalian hayati, di mana musuh alami hama (misalnya Trichogramma untuk ulat atau Ladybug untuk kutu daun) digunakan untuk menjaga populasi hama tetap terkendali. Ditekankan pula peran mikroba antagonis yang mampu menekan pertumbuhan patogen penyebab penyakit tanaman. Diskusi interaktif dengan narasumber, Bapak Dr. Suryadi, seorang ahli hama penyakit tumbuhan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang telah meneliti selama lebih dari 20 tahun, semakin memperkaya pemahaman peserta.

Sesi praktik lapangan menjadi bagian krusial dari lokakarya ini. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk langsung mempraktikkan pengamatan organisme tanah menggunakan alat sederhana, pembuatan bokashi (pupuk organik padat), dan aplikasi pupuk hayati di area demplot P3B “Alam Lestari.” Pendampingan dilakukan oleh Ibu Lia Agustina, seorang penyuluh pertanian berpengalaman dari Dinas Pertanian Kabupaten Tanah Subur, yang telah membimbing petani selama lebih dari 15 tahun. Diharapkan, dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, para Petani Organik dapat menjaga keseimbangan organisme hidup di lahan mereka, demi produktivitas pertanian yang lestari dan ramah lingkungan.