Ancaman serangan ulat tentara atau Fall Armyworm (Spodoptera frugiperda) telah menjadi tantangan global yang sangat serius menyerang para petani jagung. Hama invasif ini dikenal sangat rakus dan memiliki daya rusak yang luar biasa karena mereka menyerang bagian titik tumbuh tanaman jagung. Jika tidak segera ditangani, dalam waktu singkat satu hamparan lahan bisa terlihat meranggas dan hancur, membuat harapan panen hilang seketika. Bagi Anda yang mengandalkan komoditas ini, memahami pola serangan dan cara pengendalian organik sangatlah mendesak agar tanaman jagung kesayangan Anda tidak menjadi korban keganasan serangga yang dikenal mampu berpindah tempat secara massal ini.

Ulat ini mendapatkan julukan “tentara” karena perilakunya yang sering berpindah dari satu lahan ke lahan lain dalam jumlah besar setelah persediaan makanan di tempat sebelumnya habis. Ciri khas serangannya adalah adanya lubang-lubang besar pada daun yang baru terbuka dan adanya kotoran seperti serbuk gergaji di pucuk tanaman. Jika ulat sudah masuk ke dalam gulungan daun muda, pengendalian menjadi sangat sulit karena ulat terlindungi dari semprotan pestisida kontak. Oleh karena itu, kunci sukses agar tanaman tidak ludes adalah dengan melakukan pengamatan rutin setiap pagi untuk mendeteksi keberadaan telur atau larva kecil sebelum mereka masuk lebih dalam ke bagian batang.

Salah satu cara organik paling efektif untuk menghadapi ulat tentara adalah dengan memanfaatkan agen hayati seperti virus Spodoptera frugiperda Multicapsid Nucleopolyhedrovirus (SfMNPV) atau bakteri Bacillus thuringiensis (Bt). Bahan-bahan ini bekerja secara sistemik di dalam perut ulat. Ketika ulat memakan bagian daun yang telah disemprotkan agens hayati ini, mereka akan berhenti makan dalam hitungan jam karena sistem pencernaannya lumpuh. Metode ini sangat aman bagi manusia dan tidak merusak kualitas nutrisi jagung. Penggunaan bio-pestisida ini adalah langkah cerdas untuk melindungi investasi lahan tanpa harus mencemari lingkungan dengan residu kimia yang sulit terurai.

Selain menggunakan agens biologi, teknik mekanis dan fisik juga bisa diterapkan oleh petani skala kecil. Memasukkan sedikit abu gosok atau pasir halus yang dicampur dengan serbuk lada ke dalam gulungan daun (pucuk) jagung terbukti dapat mengganggu sistem pernapasan dan kulit ulat yang lunak. Rasa gatal dan panas dari campuran tersebut akan membuat ulat keluar dari persembunyiannya atau mati di dalam gulungan daun.

Kategori: Berita